Legislator Darul Hasyim Fath Dorong Ko-Eksistensi di Pulau Masakambing

Sabtu, 29 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Legislator Darul Hasyim Fath Dorong Ko-Eksistensi di Pulau Masakambing (Foto: Istimewa)

Legislator Darul Hasyim Fath Dorong Ko-Eksistensi di Pulau Masakambing (Foto: Istimewa)

SUMENEP, Indeks Jatim – Darul Hasyim Fath, Legislator PDI Perjuangan memimpin gerakan penanaman pohon kelengkeng di Pulau Masakambing, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, sebuah langkah strategis yang sederhana namun berdampak besar.

Aksi ini bukan sekadar penghijauan biasa, melainkan intervensi ekologi yang dirancang untuk memperkuat Keseimbangan Ekosistem yang dapat diharapkan menjamin kelangsungan hidup satwa paling langka di dunia yang bersemayam di pulau kecil tersebut.

Pulau Masakambing telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Esensial (KEE) karena perannya sebagai satu-satunya benteng pertahanan bagi populasi Kakaktua Jambul Kuning subspecies abbotti (Cacatua sulphurea abbotti). Spesies ini berada dalam status Kritis (Critically Endangered).

Penanaman pohon buah, khususnya kelengkeng, dipilih sebagai solusi konservasi berbasis masyarakat yang efektif.

Baca Juga :  Banyuwangi Siapkan "Benteng" Ekonomi Lokal Lewat Perda Produk Unggulan

“Ekosistem di pulau sekecil Masakambing sangat rentan. Penambahan tutupan hijau melalui pohon buah adalah cara paling efisien untuk menyeimbangkan relasi antara aktivitas manusia dan kebutuhan margasatwa.” jelas Darul. Sabtu, 29/11/2025

Pohon kelengkeng diharapkan berfungsi ganda :

  • Sumber Pakan Alami : Menyediakan makanan segar untuk Kakaktua Jambul Kuning, mengurangi potensi konflik pakan dengan masyarakat.
  • Perlindungan Habitat : Menjadi tempat berlindung dan sarang yang aman, terutama bagi spesies yang membutuhkan pohon tinggi untuk berkembang biak.
  • Manfaat Ekonomis : Memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga, sehingga pelestarian hutan memiliki insentif langsung bagi komunitas lokal.

Kunci dari keberhasilan konservasi di Masakambing adalah Ko-Eksistensi (hidup berdampingan) antara warga dan burung kakaktua. Kehidupan satwa endemik ini sangat terintegrasi dengan lingkungan buatan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu harus memisahkan, tetapi dapat mengintegrasikan kebutuhan manusia dan alam.
Darul menekankan pentingnya pelibatan kolektif

Baca Juga :  Ironi Fiskal, PKDI Sumenep Sorot PMK 81/2025 yang Menyandera 74 Desa di Sumenep

“Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian kakaktua adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga formal. Upaya sederhana seperti menanam pohon bisa menjadi gerakan bersama,” tambahnya.

Menurut Darul, Pulau Masakambing adalah laboratorium ekologi mikro dengan tantangan konservasi yang unik. Dengan luas yang terbatas, setiap jengkal lahan dan setiap sumber daya pangan menjadi sangat krusial.

Kondisi Kritis Habitat:

  • Populasi Menurun : Jumlah Kakaktua Jambul Kuning terus merosot dalam beberapa dekade terakhir.
  • Keterbatasan Spasial : Luas pulau yang kecil membuat kebutuhan akan tutupan hijau (vegetasi) dan sumber pakan alami menjadi prioritas utama.
  • Ancaman Ekosistem : Sensitivitas ekosistem pulau kecil terhadap perubahan iklim dan gangguan antropogenik sangat tinggi.
    Upaya penanaman kelengkeng ini menjadi bagian dari Program Konservasi Kolaboratif yang bertujuan mengubah paradigma pelestarian dari sekadar seremoni menjadi aksi berkelanjutan.
Baca Juga :  Bupati Achmad Fauzi Dorong Aparatur Terus Berinovasi Lewat Bupati Award 2025

Rencana Lanjutan

  • Pemantauan Pertumbuhan: Melakukan observasi berkala terhadap pohon kelengkeng yang ditanam.
  • Pelibatan Aktif: Mendorong partisipasi lebih banyak kelompok, termasuk pelajar (sebagai penerus konservasi) dan kelompok sadar lingkungan.

Dengan mendorong langkah-langkah kolaboratif ini, Darul berharap Masakambing tetap menjadi ‘rumah yang aman’ bagi kakaktua sekaligus ‘ruang hidup yang nyaman’ bagi warganya, membuktikan bahwa pembangunan dan pelestarian dapat berjalan beriringan.

Penulis : A. Warits

Editor : Ghauzan

Berita Terkait

Komisi DPRD Sumenep Soroti DAK 2026, Komitmen Perketat Pengawasan
DP 0 Persen! BPRS Bhakti Sumekar Hadirkan Pembiayaan Motor Impian Tanpa Ribet
Bahaya Produk Kedaluwarsa, DPRD Sumenep Minta Dinkes Perketat Pengawsan
Buka Bersama PC ISNU Sumenep, Momentum Bangkitkan Semangat Organisasi
Simbolisme Kerakyatan di Ulang Tahun ke-79 Megawati; Politisi dan Ojek Online Duduk Semeja
Akselerasi Kesejahteraan, Pemkab Sumenep Alokasikan Rp3,1 Miliar untuk Restorasi Hunian
Adaptasi Digital Memukau, Pengguna Mobile JKN di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Melesat 96 Persen
LBH GP Ansor dan Polres Sumenep Bahas MoU Pendampingan Hukum Gratis

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 11:32 WIB

Komisi DPRD Sumenep Soroti DAK 2026, Komitmen Perketat Pengawasan

Kamis, 26 Maret 2026 - 11:52 WIB

DP 0 Persen! BPRS Bhakti Sumekar Hadirkan Pembiayaan Motor Impian Tanpa Ribet

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:35 WIB

Bahaya Produk Kedaluwarsa, DPRD Sumenep Minta Dinkes Perketat Pengawsan

Minggu, 8 Maret 2026 - 18:42 WIB

Buka Bersama PC ISNU Sumenep, Momentum Bangkitkan Semangat Organisasi

Jumat, 23 Januari 2026 - 16:15 WIB

Simbolisme Kerakyatan di Ulang Tahun ke-79 Megawati; Politisi dan Ojek Online Duduk Semeja

Berita Terbaru